Untuk tanganku yang sentiasa
ingin memeluk ragamu.
Untuk telingaku yang selalu
mahu mendengar ceritamu.
Terima kasih Monchiesku.
Di hari ulang tahun Mommy
yang ke lima puluh satu.
29 Disember 2023
Mesra
Posted in Write On on December 29, 2023| Leave a Comment »
Untuk tanganku yang sentiasa
ingin memeluk ragamu.
Untuk telingaku yang selalu
mahu mendengar ceritamu.
Terima kasih Monchiesku.
Di hari ulang tahun Mommy
yang ke lima puluh satu.
29 Disember 2023
Mesra
Posted in Write On, tagged Writing on December 21, 2023| Leave a Comment »
Convenience
I will not let you love me only at your convenience.
I refuse to let you stand at the door of my heart,
with no intentions of walking in and getting comfortable.
I refuse to spend my nights imagining what it must feel like,
to have you all to myself.
I refuse to let you raise my hopes.
Deep down, I knew you never really belonged to me.
But in my delusion, I thought it was better to be the second choice,
than not to be chosen at all.
But right now I’m done with this and all that it was.
I’m done being only good enough for sometimes.
I will not let you love me only at your convenience.
And you know, I had always hoped for a happier ending between us.
But maybe the happy ending this time is that I,
I finally learned to choose me.
by Erastususo
Posted in Write On, tagged Airwings, Sense, Writing on December 17, 2023| Leave a Comment »
When it comes to work, I am fussy, I am pushy, I am serious, I am merciless, I am relentless, and I am a bitch — if not a classic asshole. I swear I am! And I don’t think any of my staff would disagree with this confession. Tak kiralah staff sebelum-sebelum ini, atau staff yang ada sekarang. Saya memang cerewet, banyak songeh and super duper hard to please.
As much as I am that boss from hell, I don’t believe in harsh words, though. Maki-hamun or mencarut is not my style. You won’t find me spitting profanities from my mouth, neither will you be able to capture a screenshot of bad words in my text. Nope. And I am not the bebel type either. I have repeatedly told all my staff that I don’t like repeating myself. But lessons will keep coming to them until they learn. Ironic, bukan?
I have, nonetheless, used a lot of “Aduiyai!” to express my frustrations, yes. When I don’t get the quality of work I expect, I do use “OMG!” and “Ya Allah!” followed by a few minutes of silence to send some suspense and to create some nerve-wrecking tension. Yes, I have used that too. But if you say you have heard my macam jantan voice at work, bertempik berteriak marah-marah campak barang like there’s no tomorrow… you bear false witness through and through. Baik-baik sikit ya.
Saya bagi contoh satu kerja yang paling mencabar di Airwings — ambil gambar barang/product. Since part of our sales is still supported by our online shoppers, my ultimate goal is to give as much information of our items based on pictures and product descriptions. Gambar memang sangat-sangat penting. I don’t think I need to membebel why lah kan. Kita nak beli barang yang tak ada depan mata. Faham-faham saja lah.
Hence, the requirement is painfully simple:
Ambil gambar dari beberapa sudut pandangan.
Untuk items yang flat like patches, the first picture has to be eye level. Maka sebaiknya lekat saja di dinding so people will see them as if they were shopping at our gallery. Our walls are all covered with blue felt/carpet, and the blue carpet is covered with our patches. And as for the 3D items like coins, caps, pins, metal badges, etc. gambarnya mestilah diambil dari pelbagai arah.
Maka saya pun berilah contoh…

Pertama, gambarnya mestilah tegak. Berdiri atau baring, boleh belaka.
Asalkan tegak.

Seterusnya ambil lah gambar yang menunjukkan bentuk, ketebalan, dan bahagian lain yang tak dapat dilihat daripada gambar pertama.

Unlike Product Description yang memaparkan maklumat item dalam perkataan dan nombor, a picture worths a thousand words.
Gambar yang baik tak perlu kata-kata.

Another picture from another angle might help potential buyers in making their decision: To buy or bye-bye.

“Walau dari sudut mana pun kau lihat diri ini,
walaupun dari atas sekali semua adalah sama.”
Ini contoh sebenar untuk menunjukkan betapa fussy, pushy dan seriousnya saya dalam bab kerja. It took a lot of time to guide, instruct, educate, assist and facilitate learning. It still does. The new generation, as I have learned the hard way, cannot be led by example anymore. They don’t even look at examples! How lah? Saya nekad untuk cuba lagi sekali memahamkan staff apa yang saya mahu.
Tengoklah tu, sampai menitik peluh jantan staff jantan saya bila mesej, “Faham Puan.”
Kan saya dah kata, I’m a bitch when it comes to work. Saya tak peduli, staff nak menyampah ke, staff nak menyumpah ke. Yang saya tahu, kerja mesti jalan, dan jalan mesti lurus. Jalan lurus ni biasanya jauh. Lambat nak sampai, payah nak capai. But I also know that more often than not, people can do better if they are given enough push.
Well, I might toil like a horse. But deep down, I know…
I am that Pushycat Doll.
Posted in Write On, tagged Writing on December 14, 2023| Leave a Comment »
Jangan patah hati kalau kata-kataku
tak turun seperti hujan di Inbox mu.
Atau tak gugur seperti daun dijemput angin
limpas-limpas di messenger mu.
Aku itu hujan yang tak kenal musim.
Datang dan sembunyi tak kenal iklim.
Sedang ingatanku padamu
adalah daun-daun yang tumbuh lagi
berganti-ganti dalam sehari.
Segar sebentar dan akhirnya jatuh
limpang-limpang di bait puisi
yang sedang kau baca ini.

Menunggu hujan turun?
Tak mungkin hujan turun hanya setitik.
Tak mungkin rindu bertahun hilang sedetik.
Posted in Write On on December 11, 2023| Leave a Comment »
Posted in Write On on December 9, 2023| Leave a Comment »
Sedang saya mengupas bawang untuk memasak rendang cendawan tiram raja pagi ini, saya mencari ilham untuk sepucuk surat yang belum saya tulis. Tapi yang terlintas di fikiran saya adalah pelbagai persoalan tentang penjodoh bilangan “sepucuk surat”.
Kenapa surat saya di pucuk? Kenapa bukan di kuntum? Kalau isinya datang dari hati yang berbunga, apakah ia akan menjadi sejambak, sejambangan? Tak bolehkah saya menulis sekuntum puisi yang wangi dan bukan sebuah puisi yang manis untuk si buah hati? Bukankah sebuah hati itu, kalau hancur akan berkeping-keping jadinya?
Akhirnya yang membawa saya kembali ke realiti adalah sepohon selasih yang baru saya beli. Saya tanam semula dalam pasu cantik di sudut jendela. Bukan di hujung halaman. Dan bukan lambang percintaan.


Posted in Nostalgia, Write On, Writing, tagged Writing on November 22, 2023| Leave a Comment »

Tak ingat langsung pantun ini. Lupa betul. Lupa terus. Kalau tak kerana Edrick mengemas aras satu Mesra, tempat saya berkubang mengusahakan Airwings dari tahun 2012 sampai ke tahun 2019, memang pantun ini akan jadi bahan artifact saja. Bahan peninggalan sejarah dan bahan bukti kejiwangan saya. Habis semua buku catatan saya dibawa naik si Dedek. Buku catatan yang masih banyak halaman kosong, tak ada satu pun penuh. Kadang-kadang jiwang saya ini hangatnya cuma sekejap.
Bila diamat-amati maksud pantun saya, tak dapat juga saya imbas kembali siapa yang saya maksudkan. Siapa yang saya pandang. Dan siapa yang menggoncang jiwa saya di Disember 2010 dulu. Sewaktu saya kembali ke tanahair bertiga dengan anak-anak, jiwa saya kacau, hidup saya galau. Bumi Rasputin terlalu dingin. Dan terlalu ramai perempuan menjual kehangatan untuk lelaki-lelaki yang konon mahu mengisi sepi. Akhirnya saya sedari, di mana-mana pun… ada saja lelaki yang jiwa sepinya tak terisi oleh anak-anak dan isteri-isteri.
Atau mungkin saya menulis pantun ini untuk cerita-cerita dalam pembayangnya saja. Tentang rindu pada sepohon kundang tepi perigi tebing rumah Wan yang rajin berbuah di hujung tahun, cuti sekolah. Ada galah yang selalu tersandar di penjuru kandang kerbau sengaja ditinggalkan Aki. Tahu cucu-cucunya cuma rajin mengait kundang berbuah rendang, makannya jarang. Tentang pohon selasih yang rajin saya tanam di San Donato Milanese, tanpa tahu namanya selasih. Allora conoscevo solo il basilico. Tentang betapa berbulunya saya dengan sambal bacang yang berbulu.
Dan tentang Mimosa Pudica dengan cerita lamanya yang lama saya tinggalkan saja di Lorong Tengah, Kampung Pinang, Taiping. Tak bawa ke mana-mana. Hanya terbawa ke 2010.
Posted in Write On on November 15, 2023| Leave a Comment »

This post has nothing to do with Pensacola, or Pensacola Beach where I was 20 years ago. I was just looking for words that start with ‘pen’ to describe what I spent a good three hours on tonight. After 40 years of being a fountain pen user, today I learned how to clean them nibs, from my seventeen-year-old son. We are big fans of LAMY!
And as I was thinking to use Pensacola as the title of this post, I realized how I was disekolahkan perihal pens. Pen sekolah. Just when I thought I knew what to do and I was going to do it my way… here I was, on the receiving end of knowledge and guidance from a boy who has only been using fountain pens for five years. I had my TIL moment today.
Other than that, I am back into writing. Both blogging and hand-writing. The few hours last Sunday that I voluntarily surrendered myself to be kept captive at Stickerrific did awaken this old soul inside of me somewhere, to be someone, somehow. Maybe writing is my calling. The next something I should get are the reading glasses. I need them for writing.
Posted in Write On on November 13, 2023| Leave a Comment »
Posted in Write On on November 11, 2023| Leave a Comment »