.
.
.
0.000000
0.000000
.
We don’t have tomorrow.
We can’t keep yesterday.
So I will just love you today.
One day at a time.
Just one.
Pricetaglessly.
.
~Enida
29 January 2011
Mesra Terrace
.
Posted in Poetry | 1 Comment »
.
.
.
Di dalam hati ku menangis
Bila ku mengenang dirimu sayang
Kini jauh sudah harapan hati
Selama ini ku rindu
Ohhh
.
Tiada belai kasih sayangmu
Tiada senyum yang manis lagi
Berat rasalah hatiku kini
Tanpa dirimu disisiku
.
Kini ku mengenang dirimu
Aku gelisah selalu
Jangan kau lupakan diriku
Berita ku harap darimu
.
Tiada belai kasih sayangmu
Tiada senyum yang manis lagi
Berat rasalah hatiku kini
Tanpa dirimu di sisiku
Ohhh
.
Kini ku mengenang dirimu
Aku gelisah selalu
Jangan kau lupakan diriku
Berita ku harap darimu
Ohhh
.
.
.
.
Posted in Inside Enida, Songs | Leave a Comment »
.
.
Bagaimana kan kumula dan apakah kata-kata
Yang indah untuk diabadikan
Tiap wajah berkisar tiap madah bererti
Manakah ilhamku?
.
Cahaya di matamu senyum dibibirmu
Mengukir seribu tanda pertanyaan
Mungkinkah kau jua dalam kerinduan
Di saat begini aku merindukan
.
Berpucuk-pucuk surat terbiar di depanku
Tak dapat kuutuskan
Kuramas semua dan kubuangkan jauh
Dari pandangan
.
Lalu aku kesal ku kumpul semula
Tak dapat kunyatakan apa yang kurasa
Andai engkau tahu gelora hatiku
Mungkinkah kau sahut jeritan batinku?
.
Dengarkanlah panggilanku
Dengarkanlah lagu untukmu
Angin lalu kau sampaikan
Rasa rindu yang membara kepadanya
.
Warna-warna cintaku kian pudar bersama
Malam yang gelap gelita
Entahkan kau rasakan apa yang aku rasa
Atau kau tak endah?
.
Tapi ku percaya semua telah tertulis
Dan niat suciku takkan disiakan
Dan di suatu masa di hari yang indah
Kuhulur tanganku lalu kau terima
.
.
.
Posted in Hurt, Songs | Leave a Comment »
I can complain, kick, scream and cry all day, any day, if I want to. I have so much to do and life is short. The car needs servicing, the paintings need hanging, the washing machine soon – very soon – needs fixing, the stove-top needs replacing, the walls need repainting, the cracks need retouching, the filing cabinet needs ordering, the kids’ clothes need resizing, the bills need settling, my book needs writing, my songs need singing, my movies need watching, my hair needs coloring, my nails need polishing, my back needs rubbing.
.
But my heart needs mending and my soul needs searching.
.
I am gone for a long walk.
.
.
.
..
Posted in Inside Enida | Leave a Comment »
Lauk-pauk semuanya cukup. Bukan setakat cukup, malah sedap-sedap, hebat-hebat belaka. Dari yang semudah-mudahnya nak dimasak, sampailah yang senarai bahan-bahan nak membuatnya sampai tiga mukasurat kertas A4. Sebut je, dah siap semua.
.
Nak ulam, ada. Yang mentah, yang celur, yang rebus, yang dikerabu. Ada belaka. Nak sambal, banyak. Yang masam, yang masin, yang manis, yang busuk. Lebih dari ada. Nak pencuci mulut, pilih antara sago gula melaka, pengat pisang, bubur pulut hitam dan lompat tikam. Buah-buahan dah siap kupas, siap potong.
.
Lepas tu, kalau dahaga, sebut je nak minum apa. Sirap bandung, laici cincau, teh o ais limau, kedondong calamansi, lemonade, cafe latte, earl gray, Milo Volcano, Horlicks Dinosaur. Yang tak ada pun boleh diadakan. Inikan pulak Nescafé Gold 3-in-1 dalam balang kat tepi tingkap tu.
.
Tapi bila Ida merajuk Abang tak pujuk, Ida makan nasik kosong dua suap. Bila Abang kata Ida merajuk tak bertempat, Ida minum air suam je. Sebab dahaga Ida dah hilang. Minum airmata.
.
Dahlah. Ida nak cari tempat sesuai nak merajuk. Kalau Abang cari Ida tak jumpa, Abang jangan tanya Mak. Mak tak tau. 😦
.
.
Posted in Abang, Humor | Leave a Comment »
Okay. The water bottle was in my room, two doors away from the kids’ room. And in between, is the guest room – unoccupied, no lights on. So when Edrick could not bring himself to cross the outside of the dark room to get the water bottle from my room, Kitreena kindly volunteered. Edrick, however, got really upset because the sister’s ‘kindness’ somehow made him look like a bad guy.
.
It strangely spiraled up from just a little teary whining to a serious ugly cry and this, “Mommy, you blew all my chances in my life! You ruined my personality!”
.
Huh? Oh yes, I did ask him what he meant. But Edrick was so caught up in his ‘chances in his life’ that I just blew, that I could not calm him down no matter what I said or did. And oh yes, I did ask him if he missed Daddy. He gets very emotional when he does. But there was no answer if he missed Daddy. When I made a supersilly joke that maybe he could help me hunt for a new daddy, he said, “When I have a new daddy, I will make sure he stays away from you because you don’t matter anymore!”
.
At this point, my heart was ripped into 2,571 million pieces. So I quietly gave him a back rub. He was sobbing, face down on his pillow. My little big man burried himself and all the chances in his life under his quilt. But with all my strength and all my love, I picked him up, pulled him into my arms and craddled him like a baby. We were locked in each other’s embrace for the longest time.
.
“Mommy could I please sleep with you tonight?”
.
I didn’t blow all my chances in my life. My chances are right beside me now. Burried under my quilt.
.
.
.
Posted in Hurt, Monchies | Tagged Parenting | 4 Comments »