Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Writing’ Category

15 Disember 2010

Tak ingat langsung pantun ini. Lupa betul. Lupa terus. Kalau tak kerana Edrick mengemas aras satu Mesra, tempat saya berkubang mengusahakan Airwings dari tahun 2012 sampai ke tahun 2019, memang pantun ini akan jadi bahan artifact saja. Bahan peninggalan sejarah dan bahan bukti kejiwangan saya. Habis semua buku catatan saya dibawa naik si Dedek. Buku catatan yang masih banyak halaman kosong, tak ada satu pun penuh. Kadang-kadang jiwang saya ini hangatnya cuma sekejap.

Bila diamat-amati maksud pantun saya, tak dapat juga saya imbas kembali siapa yang saya maksudkan. Siapa yang saya pandang. Dan siapa yang menggoncang jiwa saya di Disember 2010 dulu. Sewaktu saya kembali ke tanahair bertiga dengan anak-anak, jiwa saya kacau, hidup saya galau. Bumi Rasputin terlalu dingin. Dan terlalu ramai perempuan menjual kehangatan untuk lelaki-lelaki yang konon mahu mengisi sepi. Akhirnya saya sedari, di mana-mana pun… ada saja lelaki yang jiwa sepinya tak terisi oleh anak-anak dan isteri-isteri.

Atau mungkin saya menulis pantun ini untuk cerita-cerita dalam pembayangnya saja. Tentang rindu pada sepohon kundang tepi perigi tebing rumah Wan yang rajin berbuah di hujung tahun, cuti sekolah. Ada galah yang selalu tersandar di penjuru kandang kerbau sengaja ditinggalkan Aki. Tahu cucu-cucunya cuma rajin mengait kundang berbuah rendang, makannya jarang. Tentang pohon selasih yang rajin saya tanam di San Donato Milanese, tanpa tahu namanya selasih. Allora conoscevo solo il basilico. Tentang betapa berbulunya saya dengan sambal bacang yang berbulu.

Dan tentang Mimosa Pudica dengan cerita lamanya yang lama saya tinggalkan saja di Lorong Tengah, Kampung Pinang, Taiping. Tak bawa ke mana-mana. Hanya terbawa ke 2010.

Read Full Post »

Paling Lama

Ini lah paling lama saya jalan terus. Diam tak singgah-singgah bertanya khabar fikiran sendiri yang sembunyi dalam waktu. Tak mengetuk pintu. Tak masuk ke ruang tamu. Tak lantas ke serambi. Tak duduk dan tak berdiri. Ini lah paling lama. Setahun dua hari.

.

Setahun banyak yang hilang dan banyak yang ditinggal pergi. Sahabat yang menemui Ilahi. Anak-anak yang menyambung pendidikan di negara sendiri. Bibik yang kembali kepada anak-anak, cucu-cucu dan suami. Kawan-kawan yang hilang harga diri dan sanggup mengkhianati.

.

Maka inilah paling lama saya tak berbunyi. Kata adik saya, sepi itu membunuh jiwa. Untung jiwa saya masih bangun melawan. Apa yang tak nampak di utara, saya berpaling ke selatan. Tapi tak hilang rupanya hati. Cuma mati.

.

Lalu saya ketuk pintu yang lain.

.

71F130DE-0BEE-426E-9092-1F6D7258C546

Read Full Post »

img_6131

 

.Sebuah angan-angan saja ini asalnya
yang kemudian aku lupa.

.

Dan hanya pada setiap kali aku
berlimpasan di gedung kayu
menjadi kata-kata angan-anganku itu
sekejap saja pupus hapus ditiup waktu.

.

Berdebu juga angan-angan
dan kata-kata menunggu masa
tak menjadi cita-cita.

.

Entah dari gua mana berhantu
Tuhan datangkan setukangkayu
yang menggergaji angan-anganku
dan memahat kata-kataku
lalu memaku cita-citaku
menjadi bangku sepatu.

.

Maha mendengar itu Tuhanku.

.

*Enida
17 February 2019
#bangkusepatu

Read Full Post »

IMG_1642.
The funny thing about random writing is yes, I do it from the heart. It is usually about things I don’t have the heart to say outright. And not to the person I mean it for, at least. And then I would leave it for a while. Long enough for me to forget whom I write it for.
.
This is one of them. And it is over a year old.
.
I rediscovered it at Borders when I was copying important information from my 2017 Notebook to my 2018. Written way near the back page, it was probably my rambling early in the year, last year. Tapi itu lah… tak ingat untuk siapa.
.
Now…
The good thing about random writing like this is that, it can end up being a reminder to your good old self. Perhaps my mantra this year should be, “Enida, sekali-sekala engkau perlu berhenti melayan dunia.”
.
.

Read Full Post »

Sering

.

.

Yang sering hilang di antara mata pena dan kegilaanku adalah waktu.

Handwriting

Read Full Post »